Syiar agung menjadi bagian penting dari suasana Iduladha. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada hari-hari tersebut adalah memperbanyak takbir. Syariat Islam mendorong kaum muslimin untuk membesarkan nama Allah sejak datangnya hari-hari istimewa di bulan Dzulhijjah. Anjuran ini berlandaskan firman Allah Ta’ala dalam Surah Al-Hajj ayat 28 yang menyebutkan agar manusia mengingat dan menyebut nama-Nya pada hari-hari yang telah ditentukan.
Sepuluh hari pertama Dzulhijjah dikenal sebagai waktu yang penuh keutamaan. Para ulama menafsirkan frasa “hari-hari yang telah ditentukan” sebagai sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah. Di dalamnya terdapat Hari Arafah dan Hari Raya Iduladha. Pada periode ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak berbagai bentuk dzikir, termasuk takbir, tahmid, dan tahlil sebagai bentuk pengagungan kepada Allah.
Apa Itu Takbir Iduladha?
Takbir Iduladha secara umum dibagi menjadi dua jenis. Pertama adalah takbir muthlaq atau takbir umum. Takbir ini dapat dilantunkan kapan saja dan di berbagai tempat. Seorang muslim dapat bertakbir di rumah, masjid, perjalanan, pasar, maupun tempat lainnya tanpa terikat waktu tertentu setelah salat.
Kedua adalah takbir muqayyad, yaitu takbir yang dibaca setelah menunaikan salat fardhu pada waktu-waktu tertentu yang telah dijelaskan para ulama berdasarkan dalil dan atsar sahabat.
“Dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.”
(QS. Al-Hajj: 28)
Ayat tersebut menjadi dasar utama anjuran memperbanyak takbir selama hari-hari mulia Dzulhijjah. Praktik ini juga dicontohkan oleh para sahabat Nabi Muhammad saw. Dalam riwayat Imam Al-Bukhari disebutkan bahwa Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma keluar menuju pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah sambil bertakbir. Takbir mereka kemudian diikuti oleh masyarakat yang mendengarnya. Riwayat ini menunjukkan bahwa tradisi menghidupkan hari-hari Dzulhijjah dengan takbir telah dikenal sejak generasi sahabat.
Kapan Waktu Takbir Iduladha Dimulai?
Mayoritas ulama berpendapat bahwa takbir muthlaq dimulai sejak masuk tanggal 1 Dzulhijjah hingga berakhirnya hari-hari Tasyriq pada 13 Dzulhijjah. Karena sifatnya umum, takbir ini dapat dibaca kapan saja sepanjang rentang waktu tersebut, baik pagi, siang, sore, maupun malam.
Sementara itu, untuk takbir muqayyad, banyak ulama memilih pendapat yang bersandar pada amalan sejumlah sahabat seperti Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma.
Menurut pendapat ini, takbir dimulai setelah salat Subuh pada Hari Arafah (9 Dzulhijjah) lalu terus dibaca setelah setiap salat wajib hingga selesai salat Ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Pendapat ini juga menjadi pegangan dalam mazhab Hanafi dan Hanbali serta diikuti sebagian ulama Syafi’iyyah.
Namun, terdapat perincian berbeda dalam mazhab Maliki. Dalam pendapat yang masyhur, takbir setelah salat dimulai sejak salat Zuhur pada Hari Nahr (10 Dzulhijjah) dan berakhir setelah salat Subuh tanggal 13 Dzulhijjah.
Perbedaan tersebut menunjukkan keluasan khazanah fiqih Islam. Meski terdapat variasi pendapat, semuanya berangkat dari semangat yang sama, yakni menghidupkan syiar takbir pada hari-hari mulia.
Bacaan Takbir yang Umum Dibaca
Berikut salah satu lafaz takbir yang populer di kalangan kaum muslimin:
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Laa ilaaha illallaah.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillaahil hamd.
Artinya:
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji bagi Allah.”
Para ulama menjelaskan bahwa tidak terdapat satu lafaz baku yang wajib digunakan. Karena itu, terdapat beberapa variasi bacaan takbir yang semuanya mengandung makna pengagungan kepada Allah SWT.
Menghidupkan Hari-Hari Dzulhijjah dengan Takbir
Memasuki Hari Arafah, malam Iduladha, hingga hari-hari Tasyriq, umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir dan takbir sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Amalan sederhana ini dapat menjadi sarana memperkuat keimanan sekaligus menghidupkan syiar Islam di tengah masyarakat.
Dengan memahami waktu pelaksanaannya, kaum muslimin diharapkan dapat menjalankan sunnah ini dengan lebih baik dan penuh semangat, sehingga suasana Iduladha tidak hanya terasa meriah, tetapi juga semakin bermakna secara spiritual.

