Puasa tanpa jeda sering dipandang sebagai bentuk kesalehan tingkat tinggi. Banyak yang mengira semakin sering berpuasa, semakin dekat pula dengan Allah. Namun, dalam ajaran Islam, setiap ibadah memiliki batasan yang menjaga manusia tetap dalam kondisi seimbang, baik secara fisik maupun spiritual.
Dalam praktiknya, puasa dilakukan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Di luar waktu tersebut, seseorang diperbolehkan makan dan minum. Selain puasa wajib di bulan Ramadhan, Islam juga menganjurkan berbagai puasa sunnah seperti Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, dan puasa Nabi Dawud ‘alaihis salam. Namun, bagaimana jika puasa dilakukan setiap hari tanpa jeda?
Fenomena ini dalam kajian fiqih dikenal sebagai puasa ad-dahr, yaitu puasa yang dilakukan terus-menerus setiap hari sepanjang waktu. Secara lahiriah, praktik ini tampak baik. Namun, Rasulullah ﷺ justru memberikan peringatan tegas terkait hal ini.
“Tidak dianggap berpuasa orang yang berpuasa sepanjang masa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa yang dilakukan terus-menerus tanpa jeda tidak sesuai dengan tuntunan terbaik dalam Islam. Para ulama memahami bahwa maksudnya bukan larangan mutlak dalam semua kondisi, tetapi sebagai bentuk ketidaksukaan terhadap sikap berlebihan dalam ibadah.
Mayoritas ulama dari empat mazhab sepakat bahwa puasa ad-dahr hukumnya makruh. Dalam mazhab Syafi’i, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa puasa ini tidak dianjurkan jika dilakukan terus-menerus. Mazhab Hanafi dan Maliki juga memandangnya serupa karena dapat melemahkan tubuh. Sementara mazhab Hanbali memberikan catatan bahwa hal ini tetap tidak dianjurkan, terutama jika menimbulkan mudarat.
“Puasa yang paling utama adalah puasa Nabi Dawud, yaitu sehari puasa dan sehari berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah standar terbaik yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Puasa selang-seling mencerminkan keseimbangan antara ibadah dan kebutuhan jasmani. Tubuh tetap mendapatkan haknya, sementara ruh tetap terjaga dengan ibadah yang konsisten.
Kisah Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash menjadi pelajaran penting. Ia ingin berpuasa setiap hari, namun Rasulullah ﷺ menasihatinya agar tidak berlebihan.
“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.” (HR. Bukhari)
Pesan ini sangat relevan dalam kehidupan modern. Aktivitas yang padat membutuhkan kondisi fisik yang prima. Jika seseorang memaksakan diri berpuasa terus-menerus, dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan, pekerjaan, bahkan kewajiban lainnya.
Islam adalah agama yang menekankan keseimbangan. Ibadah tidak hanya dinilai dari kuantitas, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan. Amalan yang sedikit namun rutin lebih dicintai Allah daripada amalan besar yang memberatkan diri.
Selain itu, menjaga niat juga menjadi kunci. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kesabaran, keikhlasan, dan ketakwaan. Ketika dilakukan secara berlebihan, esensi ini bisa hilang dan berubah menjadi beban.
Pada akhirnya, puasa ad-dahr bukanlah pilihan terbaik dalam Islam. Jalan yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah jalan tengah, yang menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat.
Mengikuti sunnah berarti memilih cara ibadah yang paling bijak, bukan yang paling berat.

