Harta yang halal menjadi syarat utama agar amal ibadah diterima, termasuk sedekah. Allah ﷻ hanya menerima yang baik dan suci, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an, “Wahai para rasul! Makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih.” (QS. Al-Mu’minun: 51). Ayat ini menjadi dasar penting dalam menjaga sumber harta sebelum digunakan untuk amal.
Jika seseorang bersedekah dengan harta yang murni haram, seperti hasil mencuri, menipu, riba, atau korupsi, maka sedekah tersebut tidak diterima sebagai ibadah. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim). Hal ini menunjukkan bahwa Allah hanya menerima sedekah yang berasal dari harta halal dan bersih.
Bila seseorang terlanjur memiliki harta haram, wajib dikeluarkan untuk membersihkan diri dari dosa, bukan dengan niat sebagai sedekah yang berpahala. Imam Nawawi dalam mazhab Syafi’i menjelaskan bahwa harta haram harus disalurkan kepada fakir miskin atau untuk kemaslahatan umum, tetapi tidak bernilai sebagai sedekah yang mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini dijelaskan dalam kitab Al-Majmu’. Ibnu Taimiyah dari mazhab Hanbali juga menyebutkan bahwa harta haram wajib dikeluarkan, namun tidak diniatkan sebagai amal baik.
Berbeda dengan harta haram, harta syubhat atau harta yang tidak jelas status kehalalannya memiliki hukum yang lebih ringan. Para ulama menganjurkan untuk menghindarinya, tetapi tidak sekeras larangan terhadap harta haram. Nabi ﷺ bersabda, “Tinggalkanlah apa yang meragukanmu, dan ambillah yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi). Jika seseorang tidak tahu sama sekali asal harta tersebut, misalnya dari warisan yang tercampur atau pekerjaan lama yang tidak jelas, maka harta itu boleh digunakan selama tidak ada kepastian bahwa itu haram.
Sedekah dari harta haram tidak bernilai pahala dan tidak dianggap sebagai taqarrub atau bentuk mendekatkan diri kepada Allah. Fungsinya hanya untuk membersihkan diri dari dosa harta haram, tetapi tidak menghapus dosa asal yang diperoleh saat mencari harta tersebut. Pelakunya tetap wajib bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat.
Kisah para sahabat juga menunjukkan teladan kehati-hatian dalam menjaga kesucian harta. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah memuntahkan makanan yang ternyata berasal dari sumber syubhat. Hal ini memperlihatkan betapa besar kehati-hatian para sahabat terhadap sesuatu yang masuk ke tubuh dan harta yang mereka miliki.
Kesimpulannya, harta haram tidak boleh dijadikan sedekah dan harus segera dikeluarkan sebagai upaya membersihkan diri dari dosa, bukan diniatkan sebagai ibadah. Harta syubhat boleh digunakan dengan penuh kehati-hatian, tetapi sangat dianjurkan untuk mencari harta yang jelas halal. Sedekah hanya akan diterima jika berasal dari harta yang halal, bersih, dan baik.

