Fenomena langka nan istimewa akan terjadi pada tahun 2033. Umat Islam akan merayakan Idul Fitri dua kali dan Idul Adha satu kali dalam satu tahun Masehi. Sebuah momen yang jarang terjadi, bahkan dalam seumur hidup seseorang. Hal ini bukan hasil kebetulan, tetapi akibat perbedaan siklus antara kalender Hijriah (komariah) dan kalender Masehi (syamsiah).
Dalam kalender Islam yang berbasis peredaran bulan, satu tahun hanya berjumlah sekitar 354 hari. Sementara tahun Masehi berjumlah 365 hari. Perbedaan inilah yang membuat bulan-bulan Hijriah maju sekitar 10–11 hari setiap tahunnya jika dibandingkan dengan kalender Masehi. Maka, dalam situasi khusus seperti tahun 2033, dua Ramadan dan dua Idul Fitri dapat jatuh dalam satu tahun Masehi.
Berdasarkan kalender Islam yang dirilis situs Al Habib dan dikutip pada Jumat (18/7/2025), berikut rincian pentingnya:
Idul Fitri 1454 H diperkirakan jatuh pada Selasa, 3 Januari 2033. Ramadan 1454 H dimulai sejak Desember 2032 dan berlangsung hingga awal Januari 2033.
Idul Adha 1454 H diperkirakan jatuh pada Jumat, 11 Maret 2033, setelah Zulhijah dimulai pada 2 Maret. Hari-hari Tasyrik akan berlangsung hingga 14 Maret.
Idul Fitri 1455 H kembali hadir pada Sabtu, 23 Desember 2033, menandai akhir Ramadan kedua dalam tahun yang sama.
“Ini peristiwa astronomis sekaligus spiritual yang langka. Hanya terjadi beberapa kali dalam satu milenium,” ujar Kristina, penulis kanal detikHikmah, saat menyoroti fenomena ini.
Tiga Lebaran dalam satu tahun menyimpan banyak peluang. Dari sisi ibadah, ini berarti tiga kali kesempatan besar untuk meraih pahala silaturahmi, zakat, salat Id, dan berbagi kebaikan. Dari sisi sosial, ini bisa menjadi sarana menguatkan solidaritas umat, terutama dalam membantu sesama melalui momentum kurban dan sedekah Idul Fitri.
Namun, ada sisi lain yang perlu diwaspadai. Tiga kali hari raya juga berarti tiga kali potensi konsumerisme. Masyarakat perlu disadarkan bahwa hakikat hari raya bukanlah soal pakaian baru atau pesta besar, melainkan hari kemenangan ruhani dan kembalinya fitrah.
Dalam skala keluarga, fenomena ini dapat menjadi sarana edukatif. Anak-anak bisa belajar tentang perbedaan kalender Islam dan Masehi, nilai-nilai ibadah, serta pentingnya hidup hemat dan berbagi. Orang tua dapat menjadikan momen ini sebagai titik kumpul keluarga yang penuh hikmah, bukan sekadar rutinitas tahunan.
Pelaku usaha dan UMKM juga bisa memetik manfaat dengan menyesuaikan produk mereka untuk tiga kali siklus konsumsi tahunan. Namun, hal ini tetap harus dibarengi dengan etika bisnis yang islami: jujur, adil, dan menghindari penipuan harga.
Menutup tahun dengan Idul Fitri, memulainya juga dengan Idul Fitri, dan diapit oleh Idul Adha menjadikan tahun 2033 bukan hanya unik, tetapi luar biasa secara spiritual. Tiga hari raya dalam setahun adalah tiga pengingat dari Allah bahwa waktu adalah nikmat yang patut disyukuri, bukan disia-siakan.

