Kehadiran gadget dalam kehidupan santri adalah keniscayaan yang tak lagi bisa dihindari. Namun, pertanyaannya bukan lagi apakah santri boleh memegang gadget, melainkan bagaimana mereka menggunakannya: dengan bijak atau malah berujung pada mudarat.
Gadget bisa menjadi sarana belajar Al-Qur’an, mengakses kitab digital, hingga mengikuti kelas daring. Tapi di sisi lain, ia juga bisa menjadi pintu masuk distraksi, kecanduan, bahkan penyimpangan konten.
Gadget Sebagai Alat Belajar yang Kuat
Banyak aplikasi islami kini hadir untuk membantu hafalan, mempermudah pencarian referensi kitab, atau mengingatkan waktu salat. Bahkan, platform diskusi daring mempertemukan santri dari berbagai daerah untuk saling berbagi ilmu.
Dengan memanfaatkan teknologi secara positif, gadget justru mempercepat proses belajar. Santri bisa memperdalam materi kajian dengan mudah dan kapan saja.
Ancaman yang Datang Diam-Diam
Namun, penggunaan tanpa pengawasan atau kendali bisa menjadi bumerang. Notifikasi media sosial, tontonan hiburan tanpa batas, dan akses cepat ke hal-hal yang tidak sesuai nilai pesantren, membuat gadget punya sisi gelap yang nyata.
Waktu yang seharusnya untuk murajaah atau membaca kitab bisa habis hanya untuk scroll tanpa arah. Di sinilah gadget menjadi bahaya, saat ia menjauhkan dari ilmu dan mengaburkan tujuan.
Kunci: Disiplin dan Tujuan Jelas
Santri perlu diajarkan bukan hanya cara pakai gadget, tapi juga adab dan tujuan penggunaannya. Disiplin waktu, pembatasan akses aplikasi hiburan, dan komitmen harian untuk produktivitas menjadi penting.
Gadget bukan musuh, tapi harus dijadikan sahabat yang mendukung perjalanan menuntut ilmu. Jika digunakan dengan bijak, ia akan memperluas wawasan dan koneksi. Jika tidak, ia bisa merusak fokus dan meredupkan semangat.
Di tangan santri yang sadar dan terarah, teknologi akan menjadi jembatan menuju kemajuan. Tapi tanpa kontrol dan tanggung jawab, ia bisa menjauhkan dari makna sejati pendidikan pesantren.

