Gawai bisa jadi alat bantu, tapi juga pengalih perhatian. Di lingkungan pondok, penggunaan perangkat digital seperti ponsel sering kali dibatasi. Namun bagi pondok yang sudah mulai menerapkan sistem digital atau mengizinkan santri membawa gadget, tantangan baru pun muncul: bagaimana mengatur waktu layar agar tidak mengganggu aktivitas utama seperti ngaji, belajar, dan beribadah?
Waktu layar atau screen time adalah durasi seseorang menggunakan perangkat elektronik yang memiliki layar seperti HP, tablet, atau laptop. Jika tidak dikontrol, screen time berlebihan dapat berdampak negatif pada fokus, hafalan, dan kedisiplinan.
Menetapkan Jadwal Khusus untuk Gadget
Langkah pertama adalah membuat jadwal penggunaan gadget yang jelas. Misalnya, hanya boleh digunakan setelah salat Isya hingga jam 21.00 untuk keperluan komunikasi, mengakses materi belajar, atau hiburan ringan. Di luar itu, gawai disimpan di tempat yang telah ditentukan.
Dengan jadwal yang konsisten, santri jadi lebih mudah membedakan waktu belajar dan waktu istirahat. Ini juga membangun kesadaran diri dalam menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Batasi Notifikasi dan Akses Aplikasi
Aplikasi yang terlalu banyak notifikasi bisa sangat mengganggu. Atur aplikasi penting seperti pesan dan materi belajar saja yang aktif. Aplikasi hiburan, media sosial, atau game sebaiknya dinonaktifkan selama jam belajar atau bahkan dihapus jika tidak mendesak.
Mengatur ulang home screen dan menghapus aplikasi yang tidak bermanfaat adalah cara cepat untuk mengurangi godaan membuka HP tanpa tujuan.
Gunakan Fitur Digital Wellbeing
Beberapa ponsel memiliki fitur Digital Wellbeing atau Focus Mode yang dapat membantu mengatur waktu penggunaan. Santri bisa mengaktifkan fitur ini agar aplikasi tertentu terkunci otomatis saat waktu belajar atau ngaji.
Teknologi bisa menjadi alat bantu yang bijak jika digunakan dengan niat dan aturan. Dengan begitu, santri tetap bisa produktif dan terhindar dari ketergantungan digital.
Edukasi dan Teladan Juga Penting
Mengatur waktu layar tidak cukup hanya dengan aturan, tapi juga perlu edukasi. Para santri perlu paham dampak penggunaan gadget yang tidak terkontrol, baik untuk kesehatan mental, waktu tidur, hingga kemampuan fokus.
Di sisi lain, pengasuh dan ustaz juga bisa memberi contoh dengan mengurangi penggunaan HP saat berinteraksi dengan santri. Ini menumbuhkan budaya sadar teknologi di lingkungan pondok.

