Cahaya kehidupan hadir melalui kedekatan seorang Muslim dengan Al-Qur’an. Kitab suci ini bukan sekadar bacaan, melainkan pedoman yang menuntun langkah kehidupan. Di lingkungan pesantren, para santri diajarkan bahwa membaca Al-Qur’an tidak cukup hanya lancar, tetapi juga harus disertai adab agar ilmu yang diperoleh membawa keberkahan.
Islam mengajarkan agar seorang hamba senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring.” (QS. Ali-Imran: 191)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa dzikir dan kedekatan kepada Allah tidak mengenal batas waktu maupun keadaan. Salah satu bentuk mengingat Allah ialah membaca Al-Qur’an dengan penuh kekhusyukan. Karena itu, membiasakan tilawah setiap hari menjadi amalan penting yang dianjurkan sejak dini, khususnya di lingkungan pesantren.
Dalam tradisi para ulama, membaca Al-Qur’an selalu didahului dengan niat ikhlas karena Allah SWT. Kebersihan lahir dan batin juga sangat diperhatikan. Seorang Muslim dianjurkan dalam keadaan suci, berpakaian baik, serta menjaga tempat membaca tetap bersih dan nyaman.
Selain itu, Islam mengajarkan pentingnya memohon perlindungan kepada Allah sebelum membaca Al-Qur’an. Hal ini bertujuan agar hati tetap fokus dan dijauhkan dari gangguan setan. Allah SWT berfirman:
“Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)
Karena itu, membaca ta’awudz sebelum tilawah menjadi bagian dari adab penting. Setelah itu, pembaca dianjurkan membaca basmalah di awal surah, kecuali Surah At-Taubah. Langkah sederhana ini menjadi bentuk penghormatan kepada Kalamullah sekaligus upaya menghadirkan ketenangan jiwa.
Tidak hanya itu, para santri juga diajarkan untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil, memperhatikan tajwid, makharijul huruf, serta tanda waqaf. Membaca dengan suara baik sesuai kemampuan sangat dianjurkan, sebab bacaan yang indah dapat membantu hati lebih mudah menghayati makna ayat.
Ketika menemukan ayat rahmat, seorang Muslim dianjurkan berhenti sejenak untuk memohon kebaikan kepada Allah. Sebaliknya, ketika membaca ayat tentang azab, dianjurkan meminta perlindungan kepada-Nya. Sikap ini melatih hati agar tidak sekadar membaca, tetapi juga mentadabburi isi Al-Qur’an.
Di pesantren, membaca Al-Qur’an juga menjadi sarana pendidikan akhlak. Santri diajarkan untuk tidak bercanda berlebihan, berbicara sia-sia, atau melakukan hal yang mengurangi kekhusyukan saat tilawah. Sebab, menghormati Al-Qur’an termasuk bentuk penghormatan kepada ilmu dan wahyu Allah SWT.
Membiasakan membaca Al-Qur’an dengan adab yang benar akan melahirkan ketenangan hati serta memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. Semoga setiap huruf yang dibaca menjadi jalan datangnya rahmat, ilmu yang bermanfaat, serta keberkahan hidup di dunia dan akhirat.

