Pondasi tauhid yang kuat pada seorang istri akan menjadi penopang kesabaran, ketenangan, dan kematangan dalam menghadapi masalah rumah tangga. Sebaliknya, lemahnya tauhid sering membuat perasaan mudah terguncang oleh situasi kecil, sehingga hubungan dengan suami dan keluarga rentan terganggu.
Fenomena ini nyata terlihat di kehidupan rumah tangga modern, ketika banyak pasangan menghadapi tantangan komunikasi. Emosi yang tidak terkendali sering berawal dari prasangka buruk, kurangnya rasa syukur, hingga perasaan tidak dihargai. Semua ini berakar pada lemahnya pemahaman agama dan kurangnya pembiasaan mengembalikan segala urusan kepada Allah.
Istri yang lemah tauhidnya, misalnya, mudah meninggikan suara ketika tidak sepakat dengan pendapat suami. Bukan karena masalah besar, tetapi karena tidak terbiasa mengelola perbedaan dengan sabar. Begitu pula saat suami terlambat pulang atau diam, prasangka buruk lebih dulu muncul dibanding mencari alasan yang baik.
Tidak jarang, kondisi ini membuat seorang istri mudah baper ketika perhatian yang diharapkan dari suami tidak diberikan. Emosi pun mudah tersulut oleh hal kecil, lalu mengungkit kesalahan lama yang seharusnya sudah dilupakan. Padahal, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar pasangan saling menutup aib dan memaafkan kesalahan.
Perasaan tidak dihargai juga sering muncul jika suami lupa memuji atau memberikan ucapan tertentu. Bahkan, ada yang merasa hidupnya paling berat, sehingga lupa bersyukur kepada Allah. Padahal, rasa syukur adalah kunci untuk menjaga hati tetap lapang dalam keadaan apa pun.
Sebuah atsar dari Al-Ibrahimiy menyebutkan:
“Apabila seorang wanita tidak mengetahui ilmu agama, niscaya ia akan menyusahkan suami, merusak anak-anak, dan membinasakan umat.”
Pernyataan ini menegaskan betapa pentingnya ilmu agama dalam membentuk akhlak, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keberlangsungan generasi.
Menjaga kekuatan tauhid berarti menanamkan keyakinan penuh pada Allah dalam segala keadaan. Seorang istri yang kokoh tauhidnya akan lebih tenang menghadapi keterlambatan suami, lebih bijak dalam menyikapi perbedaan, dan lebih mudah mengubah keluhan menjadi doa.
Rumah tangga yang harmonis tidak dibangun hanya dari cinta, tetapi dari iman yang kuat, adab yang terjaga, dan hati yang lapang. Dengan bekal tauhid yang mantap, seorang istri dapat menjadi penyejuk hati suami, pendidik yang bijak bagi anak-anak, dan pilar kokoh bagi masyarakat.

