Godaan emosi seringkali hadir saat seorang pria terlibat dalam hubungan dengan perempuan yang sedang rapuh. Perempuan itu mungkin sedang depresi, merasa diabaikan oleh suaminya, dan kehilangan arah. Di tengah kondisi seperti ini, simpati bisa berubah menjadi rasa nyaman dan celakanya, berubah menjadi hubungan terlarang.
Bagaimana jika seorang pria menyadari bahwa wanita yang dia cintai ternyata masih bersuami, sedang hamil, dan mengalami tekanan psikis berat hingga mengancam bunuh diri? Ini bukan sekadar kisah cinta terlarang. Ini tentang akhlak, tanggung jawab, dan keselamatan akhirat.
Hubungan Gelap Bukan Jalan Penyelamat
Zina adalah dosa besar. Bahkan jika niatnya untuk “menolong” atau merasa kasihan. Allah telah berfirman:
”Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk.” – (QS. Al-Isra’: 32)
Jika perempuan tersebut telah bersuami, maka dosanya lebih berat karena termasuk zina muhshan yaitu zina dengan orang yang sudah menikah. Dalam fikih Islam, zina muhshan tergolong dosa paling berat yang mengundang murka Allah dan merusak tatanan sosial.
Sebagian pria menyangka bahwa bertahan dalam hubungan tersebut adalah bentuk tanggung jawab. Mereka merasa jika pergi, maka wanita tersebut akan semakin hancur. Padahal, justru menjauh dari dosa adalah bentuk tanggung jawab sejati. Bertahan hanya akan menambah luka dan menjauhkan keduanya dari pertolongan Allah.
Apa yang Harus Dilakukan oleh Pria yang Terlibat?
Langkah pertama yang harus diambil adalah memutuskan hubungan secara total dan tertib. Bukan lari dari tanggung jawab, tetapi bentuk kesadaran bahwa tidak ada cinta yang berkah jika dibangun di atas kemaksiatan. Hentikan semua komunikasi pribadi. Jangan biarkan curhat menjadi pintu terbuka kembali pada dosa. Jika wanita tersebut mengancam akan bunuh diri, segera hubungi keluarganya atau profesional medis.
Setelah itu, bertaubat seutuhnya. Taubat bukan sekadar mengucap istighfar, tapi harus disertai penyesalan mendalam, niat untuk tidak mengulanginya, dan menutup semua celah yang bisa membawa kembali pada kesalahan. Fokuskan diri memperbaiki hubungan dengan Allah terlebih dahulu.
Jika wanita tersebut masih mengalami depresi berat, arahkan dia kepada pihak yang kompeten. Bantu dia kembali ke keluarganya, psikolog, atau tokoh amanah. Jangan posisikan diri sebagai “satu-satunya penyelamat”, karena itu hanya akan menciptakan ketergantungan tidak sehat dan memperpanjang ketergelinciran.
Maka, sikap bijak adalah: menjaga batas. Menguatkan dari jauh. Tidak memanfaatkan kelemahan seseorang untuk dekat secara emosional.
Lelaki Sejati: Penjaga Kehormatan, Bukan Perusak Rumah Tangga
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
”Tidak beriman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.” – (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika kita tidak rela istri kita didekati oleh pria lain, maka jangan pula kita mendekati istri orang lain meski perempuan itu sedang terluka.
Menjadi lelaki sejati adalah menjaga batas syariat. Tidak ikut menambah kehancuran rumah tangga orang lain. Bukan dengan mendekap perempuan yang lemah, tapi dengan mendorongnya bangkit secara bermartabat.
Jika Sudah Terlanjur: Jangan Terus Terjerumus
Jika Anda pernah terlibat, maka pintu taubat selalu terbuka. Kembalilah kepada Allah dengan sepenuh hati. Putuskan hubungan, sekalipun berat. Berdoalah agar wanita tersebut mendapat jalan keluar yang halal dan sehat.
Bila kelak dia telah resmi bercerai dan sembuh secara mental, lalu hubungan dibangun ulang dalam kerangka syar’i, maka lakukan dengan istikharah dan niat lurus. Namun itu bukan prioritas saat ini. Prioritasnya adalah menghentikan dosa dan menyelamatkan diri.
Menjadi laki-laki sejati bukan soal siapa yang paling diinginkan, tapi siapa yang paling mampu menjaga kehormatan perempuan — bahkan ketika mereka sedang tidak mampu menjaga dirinya sendiri.
”Dan orang-orang yang apabila mereka mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri, mereka ingat Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka…” – (QS. Ali-Imran: 135)
”Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya…” – (QS. At-Tahrim: 8)

