Close Menu
Khalifa.or.idKhalifa.or.id
  • Wakaf
  • LMS
  • Kebijakan
  • Privasi
Facebook X (Twitter) Instagram
Khalifa.or.idKhalifa.or.id
  • Beranda
  • Berita
  • Pesantren
  • Pembinaan
  • Pendaftaran
Facebook X (Twitter) Instagram
Khalifa.or.idKhalifa.or.id
Beranda » Benarkah Melihat Guru Setara 40 Rakaat?
Fiqih

Benarkah Melihat Guru Setara 40 Rakaat?

Ilmu yang berkah lahir dari dalil yang sahih dan adab yang lurus.
MundzirMundzir22 Februari 2026
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Benarkah Melihat Guru Setara 40 Rakaat?
Seorang guru menyampaikan kajian kitab di hadapan para santri
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Ungkapan populer ini sering terdengar di majelis taklim. Kalimatnya sederhana namun kuat. “Melihat wajah guru sama dengan shalat 40 rakaat.” Banyak yang mengucapkannya untuk memotivasi murid agar mencintai ulama. Niatnya baik. Tujuannya mulia. Namun dalam agama, kebaikan niat harus disertai kebenaran dalil.

Belakangan, kesadaran untuk memeriksa sumber hadis semakin meningkat. Kajian kitab klasik kembali digiatkan. Banyak dai mengingatkan pentingnya tabayyun sebelum menyebarkan riwayat. Apalagi jika menyangkut pahala besar. Para ulama sejak dahulu telah menyusun kitab khusus untuk memilah hadis sahih dan palsu. Ini menunjukkan betapa seriusnya persoalan ini.

Rasulullah ﷺ telah memberi peringatan tegas. Beliau bersabda bahwa siapa yang berdusta atas namanya, maka ia terancam neraka. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Ancaman ini bukan perkara ringan. Karena itu, setiap keutamaan amal harus memiliki sandaran yang jelas.

Islam memang sangat memuliakan guru dan ulama. Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 9 bahwa tidak sama orang berilmu dan yang tidak berilmu. Dalam Surah Fathir ayat 28 disebutkan bahwa ulama adalah orang yang paling takut kepada Allah. Ini menunjukkan kedudukan mereka sangat tinggi. Menghormati mereka adalah bagian dari akhlak mulia.

Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa bukan termasuk golongan beliau orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak mengetahui hak ulama. Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan dinilai hasan oleh sebagian ulama. Maka, mencintai guru adalah ajaran Islam. Tidak diragukan lagi.

Namun bagaimana dengan ungkapan melihat wajah guru berpahala besar? Dalam literatur klasik, terdapat riwayat berbunyi, “Melihat wajah orang alim adalah ibadah.” Riwayat ini dibahas para pakar hadis. Mereka menelitinya secara mendalam.

Imam Ibnul Jauzi dalam kitab Al-Mawḍū‘āt menyatakan bahwa riwayat tersebut tidak sah. Bahkan beliau memasukkannya dalam kategori hadis palsu. Penilaian ini bukan tanpa dasar. Sanadnya mengandung perawi yang bermasalah.

Imam As-Sakhawi dalam Al-Maqāṣid al-Ḥasanah juga menegaskan kelemahan riwayat tersebut. Beliau menukil pendapat para ulama sebelumnya. Kesimpulannya sama. Riwayat itu tidak bisa dijadikan hujah.

Imam As-Suyuthi dalam Al-La’ālī al-Maṣnū‘ah turut menyebutkan kelemahannya. Beliau menjelaskan adanya perawi yang tidak terpercaya dalam sanadnya. Ini memperkuat kesimpulan bahwa riwayat tersebut tidak sahih.

Adapun tambahan kalimat “lebih utama dari shalat 40 rakaat” tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadis muktabar. Tidak ada dalam Kutubus Sittah. Tidak pula dalam Musnad Ahmad atau Mu’jam Ath-Thabrani. Tambahan angka ini justru menjadi tanda mencurigakan.

Ibnul Qayyim dalam Al-Manār al-Munīf menjelaskan ciri hadis palsu. Salah satunya adalah menyebut pahala sangat besar untuk amalan ringan tanpa dasar kuat. Pola seperti ini sering muncul dalam hadis maudhu’. Karena itu, para ulama sangat berhati-hati.

Menetapkan pahala tertentu termasuk perkara gaib. Ia tidak bisa ditetapkan dengan logika. Hanya wahyu yang berhak menjelaskannya. Shalat sendiri adalah ibadah agung. Dalam Surah An-Nisa ayat 103, Allah menegaskan kewajibannya. Dalam hadis riwayat Tirmidzi disebutkan bahwa shalat adalah tiang agama. Maka tidak pantas menyamakannya tanpa dalil sahih.

Allah juga berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 36 agar kita tidak mengikuti sesuatu tanpa ilmu. Ayat ini menjadi prinsip penting dalam menyikapi riwayat. Semangat menghormati guru tidak boleh membuat kita lalai dari kebenaran.

Sikap yang tepat adalah seimbang. Kita tetap memuliakan guru. Kita menjaga adab di hadapan mereka. Para sahabat dahulu duduk tenang di hadapan Rasulullah ﷺ. Seakan ada burung di atas kepala mereka. Riwayat ini menunjukkan adab yang tinggi.

Menghormati guru adalah ibadah. Mendoakan mereka adalah kebaikan. Menjaga nama baik mereka adalah akhlak mulia. Namun semua itu tidak perlu dibungkus dengan riwayat lemah. Kebenaran tidak butuh tambahan yang tidak sahih.

Akhirnya, tidak ditemukan hadis sahih yang menyatakan melihat wajah guru setara shalat 40 rakaat. Riwayat yang mirip dinilai lemah bahkan palsu oleh ulama klasik. Kita tetap mencintai ulama. Kita tetap memuliakan guru. Namun semua harus berdasarkan dalil yang benar. Dengan ilmu yang sahih, adab akan semakin berkah.

AdabKepadaGuru FiqihIslam IlmuDanUlama KajianHadis LiteraturKlasik
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Mundzir
  • Website
  • Facebook
  • Instagram

Ketua Dewan Pengasuh Pesantren Pramuka Khalifa, Tasikmalaya. Pembina satuan pandega di Gudep Tasikmalaya 05.109. Pelath pembina pramuka di Pusdiklat ‘Sukapura’ Kwarcab Gerakan Pramuka Tasikmalaya. Fasilitator Pembinaan Kesadaran Bela Negara, Kemhan RI.

Related Posts

Air Masuk Saat BAB, Batal Puasa?

22 Februari 2026

Hukum Ikut Makan Tanpa Bayar Iuran Kemah

21 September 2025

Qashar Shalat Saat Berkemah, Bolehkah?

20 September 2025
Pesantren Pramuka Khalifa
© 2026 | UDEX Institute.
  • Wakaf
  • LMS
  • Kebijakan
  • Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.