Panduan Fiqih Dzulhijjah

Panduan Puasa Dzulhijjah

Memahami puasa, hari-hari utama, larangan puasa, dzikir, takbir, dan amal sunnah Dzulhijjah dengan bahasa yang ringan, runtut, dan berdalil.

Ada hari-hari yang Allah muliakan agar manusia kembali menata hati, memperbanyak amal, dan tidak membiarkan musim pahala berlalu tanpa bekal.

Disusun oleh Ahmad Mundzir
Pengasuh Pesantren Pramuka Khalifa Tasikmalaya

Ilustrasi suasana Dzulhijjah
10 Hari Pertama Musim amal yang sangat dicintai Allah

Puasa, dzikir, sedekah, tilawah, takbir, dan amal saleh menjadi bekal untuk menyambut Idul Adha dengan hati yang lebih hidup.

Alur Dzulhijjah

Hari demi hari, amal demi amal.

Dzulhijjah memiliki urutan ibadah yang perlu dipahami dengan tepat: kapan dianjurkan puasa, kapan dilarang puasa, dan kapan amal sunnah kembali dapat dilakukan seperti biasa.

Urutan Hari Penting

1–7
Dzulhijjah

Puasa sunnah awal Dzulhijjah

Hari-hari utama untuk memperbanyak amal saleh, termasuk puasa sunnah bagi yang mampu.

8
Dzulhijjah

Hari Tarwiyah

Dikenal sebagai hari sebelum Arafah. Puasa pada hari ini termasuk dalam keumuman amal saleh awal Dzulhijjah.

9
Dzulhijjah

Hari Arafah

Puasa Arafah sangat dianjurkan bagi kaum muslimin yang tidak sedang melaksanakan wukuf di Arafah.

10
Dzulhijjah

Idul Adha

Hari raya kaum muslimin. Pada hari ini puasa diharamkan.

11–13
Dzulhijjah

Hari Tasyrik

Hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah. Puasa dilarang, kecuali pengecualian tertentu bagi jamaah haji.

Setelah
Tasyrik

Puasa sunnah kembali diperbolehkan

Puasa Senin-Kamis, qadha, dan puasa sunnah lainnya dapat dilakukan kembali setelah Hari Tasyrik berakhir.

Catatan singkat: tanggal 13 Dzulhijjah termasuk Hari Tasyrik, sehingga Ayyamul Bidh pada bulan ini tidak dikerjakan secara lengkap seperti bulan-bulan lain.
Keutamaan Dzulhijjah

Mengapa hari-hari ini sangat istimewa?

Dzulhijjah bukan hanya bulan haji dan kurban. Di dalamnya ada sepuluh hari pertama yang Allah muliakan, sehingga amal saleh pada hari-hari itu memiliki kedudukan yang sangat besar.

Bulan penutup dalam kalender hijriah

Dzulhijjah adalah bulan kedua belas dalam kalender Islam. Ia menjadi bulan yang sangat dekat dengan ibadah besar umat Islam: haji, wukuf di Arafah, penyembelihan kurban, takbir, serta Hari Raya Idul Adha.

Keistimewaan Dzulhijjah tampak kuat pada sepuluh hari pertamanya. Para ulama menjelaskan bahwa hari-hari ini termasuk waktu terbaik untuk memperbanyak amal saleh, karena Allah sendiri bersumpah dengan malam-malam yang agung dalam Al-Qur’an.

Bulan ibadah besar Dzulhijjah mempertemukan haji, kurban, puasa sunnah, dzikir, takbir, dan sedekah.
Sepuluh hari utama Amal saleh pada awal Dzulhijjah memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah.
Kesempatan semua muslim Yang belum berhaji tetap dapat menghidupkan hari-hari ini dengan amal terbaik.
Musim memperbaiki diri Dzulhijjah menjadi momentum untuk menata niat, ibadah, dan kedekatan kepada Allah.

Panduan ini disusun agar pembaca dapat memahami mana amalan yang dianjurkan, mana yang dilarang, serta bagaimana menjalani Dzulhijjah dengan ilmu. Sebab semangat ibadah perlu ditemani pemahaman yang benar.

Para sahabat dan generasi salaf sangat memperhatikan hari-hari awal Dzulhijjah. Mereka memperbanyak takbir, dzikir, dan amal saleh, karena sadar bahwa tidak semua waktu memiliki keutamaan yang sama.

Al-Qur’an Allah bersumpah dengan waktu yang mulia

وَالْفَجْرِ ۝ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.”

QS. Al-Fajr: 1–2
Hadits Amal saleh yang sangat dicintai Allah

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ

“Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini.”

HR. Bukhari

Yang perlu diingat

  • Keutamaan Dzulhijjah tidak terbatas pada puasa saja.
  • Dzikir, takbir, sedekah, tilawah, dan kurban juga termasuk amal utama.
  • Puasa sunnah dianjurkan pada hari-hari yang tidak dilarang untuk berpuasa.
  • Ilmu fiqih membantu ibadah menjadi lebih tenang dan terarah.

Waktu yang mulia akan lebih bermakna ketika diisi dengan amal yang benar.

Hikmah Dzulhijjah
Puasa Awal Dzulhijjah

Puasa sunnah sebelum Idul Adha.

Puasa pada awal Dzulhijjah termasuk amal saleh yang dianjurkan, khususnya pada tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah bagi yang mampu, dengan perhatian khusus pada puasa Arafah tanggal 9 Dzulhijjah.

Memahami puasa tanggal 1–7 Dzulhijjah

Puasa awal Dzulhijjah adalah puasa sunnah yang dilakukan pada hari-hari pertama bulan Dzulhijjah sebelum datangnya Idul Adha.

Tidak harus penuh sembilan hari

Orang yang mampu boleh berpuasa sejak tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah.

Sunnah Tidak wajib Boleh sebagian hari Arafah paling ditekankan
Niat Puasa Sunnah Dzulhijjah

نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذِي الْحِجَّةِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

“Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah Ta‘ala.”

Ringkasan hukum

  • Puasa 1–7 Dzulhijjah Dianjurkan sebagai bagian dari amal saleh.
  • Puasa 8 Dzulhijjah Dikenal sebagai Tarwiyah.
  • Puasa 9 Dzulhijjah Puasa Arafah.
  • Puasa 10 Dzulhijjah Tidak boleh karena Idul Adha.

Catatan penting

Puasa awal Dzulhijjah adalah kesempatan amal sunnah.

Panduan singkat

Hari Status Catatan
1–7 Sunnah Amal saleh
8 Sunnah Tarwiyah
9 Sangat dianjurkan Arafah
10 Haram Idul Adha
Tarwiyah dan Arafah

Dua hari yang paling dikenal sebelum Idul Adha.

Tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah sering menjadi perhatian kaum muslimin. Tarwiyah dikenal sebagai hari menjelang Arafah, sedangkan Arafah memiliki dalil shahih tentang keutamaan puasanya bagi yang tidak sedang berhaji.

Hari Tarwiyah

8
Dzulhijjah

Tarwiyah adalah tanggal 8 Dzulhijjah. Dalam sejarah haji, hari ini dikaitkan dengan persiapan jamaah menuju Arafah. Bagi kaum muslimin yang tidak berhaji, puasa pada hari ini termasuk dalam keumuman amal saleh pada awal Dzulhijjah.

Hadits khusus yang menyebut pahala tertentu untuk puasa Tarwiyah dikenal populer di masyarakat, tetapi para ulama hadits menilai riwayat tersebut lemah. Meski begitu, puasa pada tanggal 8 tetap dapat dikerjakan karena termasuk hari mulia di awal Dzulhijjah.

Hukumnya Sunnah sebagai bagian dari amal saleh pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.
Catatannya Jangan menyandarkan pahala khusus Tarwiyah kepada hadits yang lemah tanpa penjelasan.

Hari Arafah

9
Dzulhijjah

Arafah adalah tanggal 9 Dzulhijjah, hari ketika jamaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah. Bagi kaum muslimin yang tidak sedang berhaji, puasa Arafah sangat dianjurkan.

Keutamaan puasa Arafah dijelaskan dalam hadits shahih. Puasa ini menjadi salah satu amal sunnah paling besar di bulan Dzulhijjah karena dijanjikan penghapusan dosa dua tahun.

Hukumnya Sunnah muakkadah bagi yang tidak sedang melaksanakan haji.
Keutamaannya Diharapkan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Hadits Shahih Keutamaan puasa Arafah

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

“Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.”

HR. Muslim

Hadits lemah yang populer

Sebagian masyarakat mengenal keterangan bahwa puasa Tarwiyah memiliki pahala khusus tertentu. Riwayat seperti ini perlu dijelaskan dengan hati-hati karena statusnya tidak sekuat hadits puasa Arafah. Karena itu, puasa Tarwiyah tetap boleh diamalkan sebagai bagian dari keutamaan awal Dzulhijjah, bukan karena janji pahala khusus yang lemah.

Urutan tiga hari

8 Tarwiyah
9 Arafah
10 Idul Adha

Mengapa jamaah haji tidak dianjurkan puasa?

Jamaah haji yang sedang wukuf di Arafah tidak dianjurkan berpuasa agar memiliki kekuatan untuk berdoa, berdzikir, dan menjalani rangkaian ibadah haji. Dalam riwayat shahih, Nabi ﷺ ditunjukkan tidak berpuasa ketika berada di Arafah.

Larangan Puasa

Hari tertentu dimuliakan dengan tidak berpuasa.

Islam tidak hanya mengajarkan kapan berpuasa, tetapi juga kapan seseorang tidak boleh berpuasa. Pada Idul Adha dan Hari Tasyrik, kaum muslimin diarahkan untuk makan, minum, berdzikir, dan menampakkan syiar hari raya.

Idul Adha dan Hari Tasyrik

Tanggal 10 Dzulhijjah adalah Hari Raya Idul Adha. Pada hari ini, kaum muslimin tidak diperbolehkan berpuasa karena ia adalah hari raya, hari penyembelihan kurban, dan hari bersyukur atas nikmat Allah.

Setelah Idul Adha, terdapat Hari Tasyrik pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Hari-hari ini juga tidak boleh digunakan untuk berpuasa, karena Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.

Jangan lanjut puasa sampai tanggal 13 Dzulhijjah

Sebagian orang menyangka bahwa puasa sunnah dapat diteruskan setelah Arafah. Padahal tanggal 10 sampai 13 Dzulhijjah adalah hari yang dilarang untuk puasa, kecuali pengecualian tertentu bagi jamaah haji yang tidak mendapatkan hadyu.

10 Idul Adha
11 Tasyrik pertama
12 Tasyrik kedua
13 Tasyrik ketiga

Larangan ini menunjukkan bahwa ibadah tidak selalu bermakna menahan diri dari makan dan minum. Pada waktu tertentu, bentuk ketaatan justru mengikuti syariat hari raya: bergembira secara wajar, menyantap rezeki halal, memperbanyak takbir, dan mengingat Allah.

Karena itu, memahami hari haram puasa membantu umat Islam menjaga keseimbangan antara semangat ibadah dan ketaatan kepada aturan fiqih.

Hadits Hari Tasyrik adalah hari dzikir

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ

“Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.”

HR. Muslim

Kesalahan yang sering terjadi

Ada yang ingin menyempurnakan Ayyamul Bidh pada tanggal 13 Dzulhijjah, padahal tanggal tersebut masih termasuk Hari Tasyrik. Ada juga yang berniat puasa qadha pada tanggal 10 sampai 13 Dzulhijjah. Keduanya perlu dihindari.

Boleh atau tidak?

Tanggal Status Catatan
9 Dzulhijjah Boleh Puasa Arafah bagi yang tidak berhaji
10 Dzulhijjah Tidak boleh Idul Adha
11–13 Dzulhijjah Tidak boleh Hari Tasyrik
14 Dzulhijjah Boleh Puasa sunnah kembali diperbolehkan

Amalan di Hari Tasyrik

  • Memperbanyak takbir dan dzikir kepada Allah.
  • Menikmati hidangan halal dengan penuh syukur.
  • Menjaga silaturahmi keluarga dan tetangga.
  • Melaksanakan penyembelihan kurban bagi yang mendapat kesempatan.
Setelah Tasyrik

Ayyamul Bidh dan puasa sunnah berikutnya.

Setelah Hari Tasyrik selesai, puasa sunnah kembali diperbolehkan. Namun, pelaksanaan Ayyamul Bidh pada bulan Dzulhijjah memiliki catatan khusus karena tanggal 13 masih termasuk Hari Tasyrik.

Mengapa tanggal 13 Dzulhijjah tidak dipuasai?

Ayyamul Bidh adalah puasa sunnah pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan hijriah. Pada bulan-bulan biasa, ketiga tanggal ini dapat dikerjakan secara lengkap.

Namun, pada bulan Dzulhijjah, tanggal 13 masih termasuk Hari Tasyrik. Karena Hari Tasyrik dilarang untuk puasa, maka tanggal 13 Dzulhijjah tidak boleh digunakan untuk Ayyamul Bidh.

Pelaksanaan yang aman

Pada bulan Dzulhijjah, puasa Ayyamul Bidh dapat dilakukan pada tanggal 14 dan 15 Dzulhijjah. Tanggal 13 ditinggalkan karena masih termasuk Hari Tasyrik.

Setelah tanggal 13 Dzulhijjah berakhir, puasa sunnah lain kembali boleh dilakukan. Misalnya puasa Senin-Kamis, puasa qadha, atau puasa sunnah lain yang tidak bertepatan dengan hari yang dilarang.

Memahami hal ini penting agar semangat ibadah tetap berjalan sesuai tuntunan. Bukan hanya banyaknya amal yang diperhatikan, tetapi juga ketepatan waktunya.

Kalender mini

Perhatikan perubahan status puasa setelah Hari Raya Idul Adha.

13 Tasyrik
Tidak puasa
14 Ayyamul Bidh
Boleh puasa
15 Ayyamul Bidh
Boleh puasa

Puasa yang dapat dilakukan

  • Puasa Ayyamul Bidh pada tanggal 14 dan 15 Dzulhijjah.
  • Puasa Senin-Kamis setelah Hari Tasyrik berakhir.
  • Puasa qadha Ramadhan pada hari yang tidak dilarang.
  • Puasa sunnah lain yang waktunya tidak bertabrakan dengan hari haram puasa.

Menggabungkan niat puasa sunnah

Sebagian ulama membolehkan penggabungan niat pada puasa sunnah yang waktunya bertepatan, seperti Ayyamul Bidh yang jatuh pada hari Senin atau Kamis. Namun, untuk puasa wajib seperti qadha Ramadhan, sebaiknya niat qadha dijadikan tujuan utama.

Qadha lebih utama didahulukan Terutama bagi yang masih memiliki tanggungan puasa Ramadhan.
Puasa sunnah tetap bernilai Selama dilakukan pada hari yang diperbolehkan dan dengan niat yang benar.
Amal dan Dzikir

Memperbanyak kebaikan pada hari-hari terbaik.

Keutamaan Dzulhijjah tidak berhenti pada puasa. Hari-hari ini juga dianjurkan untuk diisi dengan dzikir, takbir, tilawah, sedekah, kurban, doa, dan amal saleh lain yang mendekatkan diri kepada Allah.

Puasa adalah satu pintu, amal saleh sangat luas

Banyak orang mengingat Dzulhijjah karena puasa Arafah. Itu benar dan sangat baik. Namun, sepuluh hari pertama Dzulhijjah memiliki ruang amal yang lebih luas. Setiap muslim dapat mengambil bagian sesuai kemampuan.

Ada yang mampu berpuasa, ada yang kuat memperbanyak tilawah, ada yang diberi kelapangan untuk bersedekah, ada yang dapat membantu keluarga, dan ada yang menghidupkan rumahnya dengan takbir.

Puasa sunnah Dikerjakan pada hari yang diperbolehkan, terutama Arafah bagi yang tidak berhaji.
Dzikir dan takbir Dibaca lebih sering sebagai bentuk pengagungan kepada Allah.
Sedekah Diberikan kepada keluarga, tetangga, santri, fakir miskin, atau kegiatan kebaikan.
Tilawah dan doa Menghidupkan hari dengan Al-Qur’an, istighfar, dan munajat yang tulus.

Hari-hari utama seperti ini seharusnya tidak berlalu tanpa perubahan. Minimal ada satu kebiasaan baik yang diperkuat, satu dosa yang mulai ditinggalkan, dan satu amal yang dijaga lebih sungguh-sungguh.

Bacaan takbir

Takbir dapat dibaca dengan lafaz yang masyhur di tengah kaum muslimin.

اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَاللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illallah, wallahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada tuhan selain Allah. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji hanya bagi Allah.

Amalan yang bisa dijaga

  • Puasa sunnah pada hari yang dianjurkan dan diperbolehkan.
  • Memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, dan istighfar.
  • Membaca Al-Qur’an walau sedikit tetapi konsisten.
  • Bersedekah sesuai kemampuan.
  • Menjaga lisan, shalat berjamaah, dan adab kepada keluarga.
  • Mempersiapkan kurban bagi yang diberi kelapangan.

Semangat sahabat

Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah رضي الله عنهما keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah sambil bertakbir, lalu orang-orang ikut bertakbir bersama mereka.

Atsar tentang takbir Dzulhijjah
Tanya Jawab

Jawaban ringkas untuk pertanyaan yang sering muncul.

Banyak kebingungan seputar puasa Dzulhijjah muncul karena semangat ibadah belum selalu diiringi pemahaman fiqih. Beberapa jawaban berikut dapat menjadi pegangan awal.

Apakah harus puasa 9 hari penuh?

Tidak harus. Puasa tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah adalah amalan sunnah bagi yang mampu. Bila tidak mampu semuanya, boleh memilih sebagian hari. Puasa Arafah tanggal 9 Dzulhijjah adalah yang paling ditekankan bagi yang tidak berhaji.

Bolehkah niat qadha Ramadhan dan puasa Dzulhijjah sekaligus?

Qadha Ramadhan adalah kewajiban, sehingga sebaiknya diniatkan secara jelas sebagai qadha. Sebagian ulama berharap orang yang berpuasa qadha pada hari utama tetap mendapat keutamaan waktu. Namun, niat wajibnya jangan dikaburkan.

Mana lebih utama, qadha dulu atau puasa sunnah?

Mendahulukan qadha lebih aman, terutama bagi yang masih memiliki tanggungan Ramadhan. Bila waktunya longgar dan seseorang mampu, ia dapat mengatur qadha dan puasa sunnah pada hari yang diperbolehkan.

Apakah wanita haid tetap mendapat pahala Dzulhijjah?

Insya Allah tetap dapat meraih pahala melalui amal lain, seperti dzikir, doa, sedekah, membantu keluarga, mendengarkan kajian, memperbanyak istighfar, dan menjaga hati. Ibadah dalam Islam tidak hanya puasa dan shalat.

Apakah puasa Tarwiyah wajib?

Tidak wajib. Puasa Tarwiyah adalah sunnah karena termasuk amal saleh pada awal Dzulhijjah. Hadits khusus tentang pahala tertentu untuk Tarwiyah perlu dijelaskan karena statusnya lemah.

Apakah semua hadits tentang Dzulhijjah shahih?

Tidak semuanya. Ada hadits shahih, seperti keutamaan amal saleh pada sepuluh hari pertama dan puasa Arafah. Ada juga riwayat populer yang lemah, terutama terkait pahala khusus puasa Tarwiyah. Karena itu, penyampaian dalil perlu hati-hati.

Bolehkah puasa pada tanggal 13 Dzulhijjah?

Tidak boleh, karena tanggal 13 Dzulhijjah masih termasuk Hari Tasyrik. Puasa Ayyamul Bidh pada Dzulhijjah dapat dilakukan pada tanggal 14 dan 15 setelah Hari Tasyrik selesai.

Pegangan cepat

  • Puasa awal Dzulhijjah Sunnah bagi yang mampu, tidak wajib penuh sembilan hari.
  • Puasa Arafah Sangat dianjurkan bagi kaum muslimin yang tidak sedang berhaji.
  • Idul Adha dan Tasyrik Tanggal 10 sampai 13 Dzulhijjah tidak boleh berpuasa.
  • Setelah Tasyrik Puasa sunnah dan qadha kembali diperbolehkan.

Yang perlu diluruskan

  • Menganggap puasa 9 hari sebagai kewajiban.
  • Mencela orang yang tidak puasa sunnah Dzulhijjah.
  • Berpuasa pada Idul Adha atau Hari Tasyrik.
  • Menyebut pahala khusus Tarwiyah tanpa menjelaskan status riwayatnya.
  • Mengira wanita haid tidak bisa beramal di hari-hari utama.

Simpan bagian penting

Bagian ini dapat dijadikan rujukan cepat ketika ada pertanyaan di keluarga, majelis, pesantren, atau grup WhatsApp.

Penutup

Jangan biarkan Dzulhijjah berlalu tanpa bekas.

Tidak semua orang diberi kesempatan berhaji. Tidak semua mampu berkurban dalam jumlah besar. Namun setiap muslim tetap memiliki kesempatan untuk mendekat kepada Allah melalui amal yang tulus dan hati yang terus diperbaiki.

Hari-hari utama akan segera berlalu

Sepuluh hari pertama Dzulhijjah datang hanya sebentar setiap tahun. Karena itu, para ulama salaf sangat memperhatikan hari-hari ini dengan memperbanyak amal saleh, dzikir, tilawah, dan doa.

Amal yang dilakukan mungkin terlihat kecil di mata manusia, tetapi bisa sangat besar di sisi Allah ketika dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan.

Yang terpenting bukan sekadar ramai beramal.

Yang lebih penting adalah menjaga hati tetap hidup, memperbaiki niat, menjauhi maksiat, dan menjaga istiqamah setelah Dzulhijjah selesai.

Bila pada hari-hari ini seseorang mulai memperbaiki shalatnya, menjaga lisannya, memperbanyak istighfar, atau kembali dekat dengan Al-Qur’an, maka itu termasuk nikmat yang besar.

Semoga Allah menerima amal-amal kecil yang dilakukan dengan penuh harap, mengampuni kekurangan, dan mempertemukan kita kembali dengan musim ibadah berikutnya dalam keadaan lebih baik.

Bekal sederhana

Menjaga shalat tepat waktu dan berjamaah.
Memperbanyak dzikir, takbir, dan istighfar.
Puasa sunnah pada hari yang diperbolehkan.
Menjaga adab kepada keluarga dan sesama muslim.
Membiasakan sedekah dan amal kecil yang konsisten.

Doa penutup

اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَالِحَ الْأَعْمَالِ، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Ya Allah, terimalah amal-amal baik kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh.

Simpan dan bagikan

Semoga panduan ini bermanfaat untuk keluarga, santri, majelis taklim, sahabat, dan siapa saja yang ingin memahami amalan Dzulhijjah dengan lebih tenang dan berdalil.

Disusun oleh Ahmad Mundzir
Pengasuh Pesantren Pramuka Khalifa Tasikmalaya