Close Menu
Khalifa.or.idKhalifa.or.id
  • Wakaf
  • LMS
  • Kebijakan
  • Privasi
Facebook X (Twitter) Instagram
Khalifa.or.idKhalifa.or.id
  • Beranda
  • Berita
  • Pesantren
  • Pembinaan
  • Pendaftaran
Facebook X (Twitter) Instagram
Khalifa.or.idKhalifa.or.id
Beranda » Adab Menyampaikan Kebenaran pada Orang Tua
Fiqih

Adab Menyampaikan Kebenaran pada Orang Tua

Menjaga hati lebih utama daripada hanya menang dalam argumen.
MundzirMundzir7 Agustus 2025
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Adab Menyampaikan Kebenaran pada Orang Tua
Seorang anak menyampaikan pendapat kepada orang tua dalam suasana hangat dan penuh hormat cerminan adab Islami dalam berdiskusi dengan keluarga. (Ist)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Membantah orang tua, meskipun dengan alasan benar, tidak otomatis berdosa dalam Islam. Namun cara penyampaiannya sangat menentukan. Jika dilakukan dengan sopan, lemah lembut, dan tetap menjaga adab, maka tidak termasuk durhaka. Tapi jika cara menyampaikannya kasar, membentak, atau menyakitkan hati mereka, maka itu bisa menjadi dosa besar meskipun isi ucapannya benar.

Islam sangat menekankan penghormatan terhadap orang tua, bahkan dalam keadaan tidak sepakat sekalipun. Dalam Al-Qur’an, Allah melarang berkata kasar kepada orang tua, termasuk ucapan ringan seperti “ah”.

فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan jangan membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al-Isra’: 23)

Ayat ini menunjukkan bahwa menyampaikan kebenaran sekalipun tidak boleh dengan cara yang menyakitkan. Ucapan paling ringan pun bisa menjadi dosa jika membuat hati orang tua terluka.

Namun, dalam hal orang tua memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan agama, seperti menyuruh meninggalkan shalat atau melakukan perbuatan maksiat, anak dibolehkan untuk menolak. Penolakan ini harus tetap dilakukan dengan sikap hormat dan penuh kasih sayang.

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui, maka janganlah kamu taati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik. (QS. Luqman: 15)

Ayat ini mengajarkan bahwa menolak perintah yang salah diperbolehkan, namun tetap dalam bingkai perlakuan yang baik dan penuh hormat.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali anak merasa benar dan ingin menyampaikan pendapat kepada orang tua. Namun penting untuk menjaga cara dan waktu dalam menyampaikannya. Misalnya, ketika berbeda pendapat, gunakan kalimat yang merendah seperti, “Saya paham maksud Ayah/Ibu, tapi boleh saya menyampaikan sesuatu?” Hindari nada tinggi atau menyalahkan secara langsung karena hal ini hanya akan memancing emosi dan bisa menyakiti perasaan orang tua.

Pilih waktu yang tepat ketika suasana sedang tenang, dan usahakan untuk berbicara empat mata agar orang tua tidak merasa malu atau disalahkan di hadapan orang lain. Sering kali, niat baik menjadi salah kaprah hanya karena cara penyampaiannya tidak tepat. Oleh karena itu, Islam mengajarkan untuk tidak hanya fokus pada isi kebenaran, tapi juga pada cara dan adab dalam menyampaikannya.

Menjaga hubungan dengan orang tua adalah bagian dari ibadah. Bahkan ketika kita harus berbeda pendapat, Islam tetap mengajarkan untuk menempuhnya dengan penuh kehormatan, kelembutan, dan kasih sayang. Dalam banyak kisah para ulama, mereka tetap merendahkan suara, bersikap tenang, dan menahan emosi ketika menyampaikan sesuatu kepada orang tua mereka, meskipun sudah menjadi ahli ilmu.

Jika Anda pernah terlanjur menyakiti orang tua dalam menyampaikan kebenaran, segeralah meminta maaf dan memperbaiki hubungan. Berdoalah agar Allah melunakkan hati kedua belah pihak dan memberikan jalan terbaik dalam menghadapi perbedaan. Menang dalam perdebatan tidak sebanding dengan kehilangan keberkahan dalam hubungan keluarga.

Adab Islami Berbakti Kepada Orang Tua Etika Bicara Hubungan Keluarga Nasihat Islami
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Mundzir
  • Website
  • Facebook
  • Instagram

Ketua Dewan Pengasuh Pesantren Pramuka Khalifa, Tasikmalaya. Pembina satuan pandega di Gudep Tasikmalaya 05.109. Pelath pembina pramuka di Pusdiklat ‘Sukapura’ Kwarcab Gerakan Pramuka Tasikmalaya. Fasilitator Pembinaan Kesadaran Bela Negara, Kemhan RI.

Related Posts

Hukum Ikut Makan Tanpa Bayar Iuran Kemah

21 September 2025

Qashar Shalat Saat Berkemah, Bolehkah?

20 September 2025

Bolehkah Jama’ Shalat Tanpa Qashar di Perkemahan?

18 September 2025
Pesantren Pramuka Khalifa
© 2026 | UDEX Institute.
  • Wakaf
  • LMS
  • Kebijakan
  • Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.