Momen sepele seperti makan sepiring dengan anak sering kali dibumbui mitos. Sebagian masyarakat menganggap bahwa orang tua tak boleh makan bersama anak atau memakan sisa makanannya, karena diyakini dapat “menyerap rezeki” atau membuat anak sakit.
Anggapan ini menyebar luas dan diwariskan secara lisan tanpa dasar jelas. Padahal, dalam Islam, semua keyakinan harus dibangun di atas dalil syar’i, bukan mitos atau asumsi. Maka mari kita lihat bagaimana Islam memandang hal ini.
Islam Menganjurkan Makan Bersama Anak
Dalam Islam, makan bersama, termasuk makan sepiring dengan anak, bukan hanya dibolehkan bahkan disunnahkan. Ini pernah dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ sebagai bagian dari interaksi penuh kasih dan media pendidikan anak.
Diriwayatkan dari ‘Umar bin Abi Salamah radhiyallāhu ‘anhu:
كُنْتُ غُلَامًا فِي حَجْرِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ، فَقَالَ لِي: يَا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
“Aku dahulu adalah seorang anak dalam asuhan Rasulullah ﷺ. Tanganku biasa menjalar ke seluruh nampan saat makan. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Wahai anak, ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari bagian yang dekat darimu.'” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah ﷺ makan bersama anak-anak dan menjadikan momen makan itu sebagai ladang tarbiyah. Ini adalah bukti kuat bahwa makan sepiring dengan anak bukan saja dibolehkan, tapi juga penuh nilai pendidikan dan cinta.
Sisa Makanan Anak Bukan Najis, Tapi Bentuk Kasih Sayang
Memakan sisa makanan anak juga bukan hal yang tercela, apalagi najis. Jika makanan tersebut suci dan tidak terkena najis, maka tidak ada alasan syar’i untuk mengharamkannya. Bahkan, dalam Islam, berbagi makanan seperti ini adalah bentuk kasih dan keakraban keluarga.
Contohnya dapat kita lihat dalam kisah Rasulullah ﷺ bersama istrinya ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā:
قَالَتْ عَائِشَةُ: كُنْتُ أَشْرَبُ وَأَنَا حَائِضٌ، ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ ﷺ، فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ، وَيَشْرَبُ
“‘Aisyah berkata: Aku pernah minum saat sedang haid, lalu aku memberikan gelas itu kepada Nabi ﷺ. Beliau meletakkan mulutnya tepat di tempat aku minum, lalu beliau minum.” (HR. Muslim)
Jika Rasulullah ﷺ tidak merasa jijik atau enggan minum dari bekas istrinya, maka terlebih lagi bekas makanan anak, selama tidak terkena najis, tentu suci dan boleh dikonsumsi.
Meluruskan Mitos dan Takhayul
Beberapa orang masih percaya bahwa makan sepiring atau makan sisa makanan anak bisa mengurangi rezeki anak atau membuat anak sakit. Keyakinan ini tidak berdasar dan bertentangan dengan ajaran tauhid.
Allah ﷻ berfirman:
قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا
“Katakanlah: Siapakah Tuhan langit dan bumi? Katakanlah: Allah. Katakanlah: Maka apakah kamu mengambil pelindung selain-Nya, padahal mereka tidak memiliki kemampuan untuk memberi manfaat maupun menolak mudarat atas diri mereka sendiri?”
(QS. Ar-Ra’d: 16)
Rezeki, kesehatan, dan keselamatan anak semuanya di tangan Allah, bukan karena makanan atau suapan dari orang tuanya. Maka menyebarkan keyakinan semacam ini termasuk menyebarkan khurafat.
Hikmah Makan Bersama Anak
Berikut ini adalah beberapa manfaat makan sepiring bersama anak menurut Islam dan psikologi keluarga:
Menguatkan ikatan batin. Anak merasa diterima dan dicintai sepenuhnya.
Menjadi media pendidikan langsung. Seperti Nabi ﷺ yang mengajarkan adab saat makan.
Melatih adab dan berbagi. Anak belajar sopan santun dan memahami konsep berbagi.
Menumbuhkan rasa syukur dan keterikatan sosial dalam keluarga.
Makan bersama, khususnya sepiring, juga menumbuhkan keakraban emosional yang dalam antara orang tua dan anak.
Islam tidak hanya membolehkan, tetapi juga menganjurkan makan sepiring dengan anak.
Sisa makanan anak tetap suci dan boleh dimakan selama tidak terkena najis. Tidak ada larangan syar’i tentang hal ini.
Anggapan bahwa hal itu bisa menyebabkan rezeki tersedot atau membuat anak sakit adalah mitos yang bertentangan dengan tauhid.
Sebaliknya, makan bersama anak adalah sarana pendidikan, cinta, dan keberkahan dalam keluarga Muslim.
Jangan biarkan tradisi tanpa dasar merusak kasih sayang dalam rumah kita. Pilih yang berpahala, bukan yang hanya dipercaya turun-temurun.

