Waktu sakral seperti Subuh dan Maghrib tak sekadar penanda pergantian siang dan malam. Bagi banyak Muslim, dua waktu ini menjadi saat istimewa untuk menyelami ayat-ayat suci Al-Qur’an. Tradisi ini begitu kuat, terutama di pesantren dan rumah-rumah santri. Tapi apakah ada alasan ilmiah di balik kebiasaan ini?
Jawabannya: ya, ada manfaat luar biasa. Tak hanya menenangkan jiwa, mengaji di dua waktu ini juga terbukti mendukung kerja otak dan kesehatan mental. Riset-riset modern kini mulai menguatkan kebiasaan yang sudah lama dijalankan umat Islam ini.
Penelitian sistematis oleh para ilmuwan dari Malaysia yang dipublikasikan dalam jurnal Cureus (2022) menunjukkan bahwa membaca, mendengarkan, atau menghafal Al-Qur’an berdampak pada peningkatan IQ, daya ingat, dan ketenangan batin. Aktivitas ini membantu otak bekerja lebih efisien melalui stimulasi neuroplastisitas.
“Efek positifnya sangat nyata, terutama dalam meningkatkan ketenangan dan daya pikir,” tulis para peneliti dalam ulasan tersebut.
Studi lain dari Universitas Islam Internasional Malaysia pada tahun 2021 membuktikan bahwa mahasiswa yang rutin mendengarkan bacaan Al-Qur’an memiliki working memory yang lebih kuat dan tingkat stres yang lebih rendah. Waktu-waktu tenang seperti Subuh dan Maghrib dianggap mendukung efek ini secara optimal.
Sementara itu, riset oleh Sirin et al. dalam Journal of Neuroscience Nursing (2021) membuktikan bahwa anak-anak yang rutin menghafal Al-Qur’an mengalami peningkatan pada fungsi kognitif verbal dan visual. Mereka juga menunjukkan konsentrasi yang lebih baik dibandingkan kelompok kontrol.
Jurnal Suhuf (UMS, 2021) meneliti santriwati di Palangkaraya dan menemukan bahwa intensitas membaca Qur’an berkorelasi dengan kecerdasan spiritual. Semakin rutin mereka mengaji, terutama di waktu sunyi seperti Subuh dan Maghrib, semakin matang daya tahan mental dan empati mereka.
Dari sisi neurosains, waktu Subuh adalah saat otak segar dan gelombang otak berada dalam fase alpha-theta ideal untuk konsentrasi dan ketenangan. Sedangkan Maghrib, saat transisi menuju malam, membantu tubuh rileks dan memudahkan refleksi spiritual.
Sayangnya, banyak orang kini melewatkan dua waktu ini. Subuh terlewat karena rasa kantuk, Maghrib tertutup kesibukan duniawi. Padahal, cukup 15–30 menit per waktu sudah memberi efek nyata bagi jiwa dan akal.
Bukan soal banyaknya ayat yang dibaca, melainkan konsistensi dan kesungguhan kita. Menjadikan Subuh dan Maghrib sebagai momen spiritual bisa menjadi titik balik dalam hidup kita yang serba sibuk.

