Candaan receh seringkali dianggap ringan, apalagi jika berhasil mengundang tawa. Tapi dalam Islam, tidak semua tawa membawa pahala. Ada candaan yang justru mendatangkan dosa — yaitu candaan yang mengandung dusta.
Rasulullah ﷺ memperingatkan keras:
“Celaka bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang tertawa. Celaka dia, celaka dia!”
(HR. Abu Dawud; hasan)
Hadis ini tidak menyisakan ruang bagi toleransi terhadap kebohongan, meskipun dalam konteks bercanda. Kata “celaka” diulang tiga kali — pertanda ini bukan perkara sepele.
Sebagian mungkin bertanya: bukankah Nabi ﷺ juga pernah bercanda? Benar. Tapi seluruh candaan beliau bersih dari dusta. Canda beliau mengandung hikmah, tetap dalam koridor kebenaran.
“Di surga tidak ada orang tua,” ujar beliau pada seorang wanita lansia. Lalu dijelaskan, “Karena semua penduduk surga akan menjadi muda.”
(HR. Tirmidzi; disebut dalam konteks candaan yang jujur)
Bandingkan dengan candaan zaman sekarang: membuat cerita palsu demi viral, membuat prank yang menakutkan, atau bahkan mengaku-ngaku hal aneh seperti bertemu malaikat. Ini bukan hanya keliru, tapi bisa menjurus ke istihza’ — mempermainkan hal-hal serius secara tidak patut.
Islam tidak anti-humor. Bahkan Rasulullah ﷺ menyebut senyum sebagai sedekah. Tapi humor yang sehat adalah yang jujur, tidak menyakiti, tidak melecehkan, dan tidak berlebihan.
“Dan janganlah kamu mengatakan pada apa yang disebut oleh lidahmu secara dusta: ‘Ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.”
(QS. An-Nahl: 116)
Ayat ini melarang kita berkata dusta, bahkan dalam konteks yang tampak remeh. Lidah ringan berdusta hari ini bisa menyeret hati pada kekerasan dan kebiasaan meremehkan dosa.
Kesimpulannya, Islam mengizinkan canda — tapi menolak dusta dalam bentuk apa pun. Candaan boleh, asal tidak keluar dari batas syar’i. Lebih baik tertawa sedikit karena jujur, daripada tertawa ramai karena berdusta.

