Prank atau “mengisengi orang” kini menjadi tren yang marak di berbagai platform media sosial. Banyak orang menganggapnya sebagai hiburan ringan, tanpa memikirkan dampak psikologis maupun syar’i yang ditimbulkan. Padahal, di balik tawa yang ditampilkan, sering kali terkandung kebohongan, unsur menakut-nakuti, dan pelecehan yang merusak kehormatan seseorang.
Allah ﷻ berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”
(QS. At-Taubah: 119)
Ayat ini menekankan pentingnya kejujuran dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam urusan hiburan.
Nabi ﷺ bersabda:
“Celaka bagi orang yang berbicara lalu berbohong untuk membuat orang lain tertawa. Celaka baginya, celaka baginya.”
(HR. Abu Dawud; hasan)
Hadits ini menjadi peringatan keras bahwa berbohong demi membuat orang lain tertawa bukan hanya perbuatan ringan, tetapi termasuk dosa besar yang membawa ancaman serius.
Banyak prank dilakukan dengan cara menakut-nakuti, misalnya berpura-pura pingsan, kecelakaan, atau hilang secara tiba-tiba. Ada juga prank yang mempermalukan seseorang di depan umum, lalu direkam dan disebarluaskan demi konten viral. Semua ini bertentangan dengan ajaran Islam yang menekankan menjaga kehormatan dan kehati-hatian terhadap perasaan orang lain.
Dalam kaidah fikih disebutkan:
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain.”
(HR. Ahmad; Ibnu Majah; hadits shahih)
Segala bentuk prank yang menimbulkan ketakutan, kemarahan, atau luka batin termasuk perbuatan yang haram. Apalagi jika disebarkan di media sosial, maka dosa yang dihasilkan pun menjadi berlipat karena mempermalukan orang di hadapan publik.
Islam tetap membolehkan bercanda, asal tidak mengandung kebohongan, tidak menyakiti, dan tidak merendahkan martabat orang lain. Rasulullah ﷺ pun pernah bercanda dengan para sahabat, namun selalu dengan jujur dan penuh adab.
Jika gurauan hanya sekadar candaan ringan yang tidak mengandung unsur kebohongan, sekadar mencairkan suasana, maka ini dibolehkan. Namun jika sudah melibatkan kebohongan, merusak kepercayaan, atau menyakiti hati, maka bukan hanya haram, tetapi juga bisa menjadi sebab permusuhan dan keretakan hubungan.
Islam mengajarkan akhlak mulia dalam segala hal, termasuk ketika bercanda. Jangan sampai demi hiburan sesaat, kita menumpuk dosa yang akan memberatkan di akhirat. Lebih baik memilih jalan aman dengan menjaga lisan dan perbuatan agar tetap dalam keridhaan Allah ﷻ.

