Muharram menjadi pembuka kalender Hijriah sekaligus termasuk salah satu dari empat bulan haram (mulia). Di bulan ini sangat dianjurkan memperbanyak puasa, terutama puasa Tasu’a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram). Asyura dikenal sebagai hari Allah menyelamatkan Nabi Musa dari Firaun. Di Indonesia, banyak yang mengisi awal tahun dengan doa awal dan akhir tahun, meskipun ini termasuk amalan tradisi yang tidak diwajibkan.
Safar dahulu diyakini sebagai bulan sial oleh masyarakat jahiliyah, kepercayaan yang dihapuskan dalam Islam. Nabi ﷺ menegaskan tidak ada bulan sial, sehingga dianjurkan tetap beraktivitas normal dan tidak terjebak mitos. Namun, sebagian masyarakat masih melakukan ritual tolak bala atau selamatan khusus.
Rabi’ul Awwal menjadi bulan yang sangat dicintai umat Islam karena diyakini sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Banyak majelis mengadakan maulid, pembacaan shalawat, dan tabligh akbar. Ini menjadi momen memperdalam kecintaan kepada Nabi dan mempelajari sirah Nabawiyah.
Rabi’ul Akhir (atau Rabi’ul Tsani) tidak memiliki amalan syariat khusus. Namun, banyak pesantren memanfaatkan bulan ini untuk haul (peringatan wafat ulama atau pendiri pondok), serta memperbanyak kegiatan pengajian.
Jumadil Ula dan Jumadil Akhir juga tidak memiliki amalan tertentu yang dikhususkan. Di beberapa daerah, bulan ini menjadi musim pernikahan atau acara hajatan, karena dianggap sebagai bulan “tenang” sebelum memasuki Rajab dan Sya’ban.
Rajab termasuk bulan haram, di mana umat dianjurkan memperbanyak istighfar, sedekah, dan amal baik. Banyak umat memperingati Isra’ Mi’raj pada 27 Rajab, meskipun para ulama berbeda pendapat tentang tanggal pastinya. Tidak ada dalil shahih yang secara khusus menganjurkan puasa Rajab, tetapi puasa sunnah umum tetap dianjurkan.
Sya’ban dikenal sebagai bulan persiapan menuju Ramadan. Rasulullah ﷺ banyak berpuasa di bulan ini, bahkan disebutkan beliau hampir tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain Ramadan kecuali Sya’ban. Nisfu Sya’ban (malam pertengahan bulan) sering diisi dengan doa dan dzikir bersama, meskipun keutamaannya masih menjadi perbedaan pendapat.
Ramadan adalah puncak ibadah umat Islam. Bulan puasa wajib, tadarus Al-Qur’an, shalat tarawih, i’tikaf, sedekah, dan puncaknya Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir. Ramadan juga menjadi bulan melatih kesabaran, pengendalian diri, serta mempererat silaturahmi.
Syawal ditandai dengan hari raya Idul Fitri. Rasulullah ﷺ menganjurkan puasa enam hari di bulan ini, yang memiliki keutamaan seperti berpuasa setahun penuh. Syawal juga menjadi bulan silaturahmi dan tradisi halalbihalal di Indonesia.
Dzulqa’dah termasuk bulan haram, menjadi masa awal rangkaian ibadah haji. Jamaah haji mulai berangkat ke tanah suci pada bulan ini. Bagi yang di tanah air, biasanya sudah mulai mempersiapkan hewan qurban.
Dzulhijjah menjadi puncak ibadah haji. Sepuluh hari pertama sangat dianjurkan memperbanyak amal, khususnya puasa Arafah (9 Dzulhijjah) bagi yang tidak berhaji. Tanggal 10 Dzulhijjah dirayakan Idul Adha, diikuti hari-hari Tasyriq (11–13 Dzulhijjah) yang menjadi waktu dilarang berpuasa, dan disunnahkan memperbanyak dzikir serta menyembelih qurban.

